Rabu, 26 Juni 2013

Cerita kancil dan kera

Cerita kancil dan kera

Malam itu Si Kancil berlari dengan cepatnya menembus gelap dan rimbunya pepohonan. Ia takut, kalau pak tani mengetahui pelariannya dan segera mengejar bersama anjing yang baru saja dibohonginya. Ia menembus pekatnya belantara malam serta tak lagi mempedulikan jalan yang dilaluinya. Setelah cukup lama berlari, Si Kancil merasakan lelah yang tak tertahankan dan memaksanya harus berhenti. Si Kancil kemudian menyandarkan badannya pada sebatang pohon untuk beristirahat. Karena kelelahan itulah, Si Kancil sampai tertidur dengan pulasnya dibawah pohon rindang tempatnya bersandar. Ia terbangun tatkala matahari mulai menyengat kulit tubuhnya. Ketika terbangun kepalanya menengok kekiri dan kekanan menandakan ia masih khawatir kalau-kalau pak tani dan anjingnya mengejar. Setelah memeriksa keadan dan memastikan bahwa tidak ada yang mengejarnya ia perlahan-lahan melangkah pergi, masuk kedalam hutan yang lebih lebat.
Tak terasa sudah hampir setengah hari Si Kancil berjalan dan berlari tanpa sedikitpun makan dan minum. Perutnya terus berbunyi, kerongkongannya terasa kering, dan masih ditambah lagi pegal yang menyelimuti seluruh badannya. Sayup-sayup ia mendengar gemericik suara air. Ia pun terus berjalan untuk mencari tahu sumber suara tersebut. Ternyata tidak jauh dari tempat tersebut ada sebuah sungan yang masih sangat jernih airnya. Karena haus yang begitu mencekik, Si Kancil berlari cepat menuju sungai dan langsung minum sepuas-puasnya. Satu masalah telah selesai. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia bisa mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya yang dari tadi keroncongan. Ia menduga, tidak jauh dari sungai pasti ada pohon buah yang lezat hingga ia pun berjalan mengikuti arus aliran sungai tersebut. Dan ternyata benar saja, tidak begitu lama ia berjalan, dilihatnya ada buah pisang yang sudah masak. Dengan girang, ia berlari mendekati pohon pisang tersebut. Karena ia tidak bisa memanjat, maka ia berinisiatif untuk menggoyang-goyangkan pohon pisang itu dengan harapan ada beberapa biji pisang yang jatuh. Berkali-kali ia mencoba menggoyangkan pohon pisang, namun tidak ada satu bijipun yang jatuh. Lama kelamaan Si Kancil menyerah juga. Ia hanya bisa duduk sambil memandang buah pisang yang sudah berwarna kuning dengan menahan air liurnya.
Sembari duduk dan memandang buah pisang, ia terus memutar otak untuk menemukan cara bagaimana bisa memakan buah tersebut. Beberapa saat setelah ia duduk dan merenung, datanglah seekor Kera untuk minum disungai. Masalah terselesaikan. Kera adalah hewan yang pintar memanjat pohon. Dalam hatinya Kancil berujar, aku akan meminta bantuannya untuk memetikkan buah pisang tersebut. Si Kancil kemudian mendekati sang kera yang tengah asyik minum air sungai. Karena lapar yang begitu hebatnya, tanpa banyak basa-basi Kancil langsung mengutarakan niatnya. Kera adalah binatang yang sangat menyukai pisang. Begitu mendengar bahwa disekitar tempat itu ada buah pisang yang sudah masak ia langsung merasa lapar.
“dimana pohon pisangnya” Tanya sang Kera kepada Kancil.
“tunggu dulu tuan Kera. Saya akan memberitahukan dimana letak buah pisang itu asalkan tuan mau memenuhi persyaratan yang saya ajukan” kata Kancil
“baik katakan saja apa sayaratnya”
“saya ingin tuan yang memanjat pohon, kemudian pisang-pisang itu kita bagi dua. Bagaimana tuan? Anda setuju?”
Sang Kera diam sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya. “baiklah, aku setuju denganmu. Tapi bagaimana caranya untuk membagi buah pisang itu?”
“gampang saja tuan Kera.” Jawab Kancil “setiap anda memakan satu buah pisang diatas pohon, anda juga harus melemparkan kepada saya satu. Demikian seterusnya. Anda setuju?” Kancil menawarkan
“baiklah, aku setuju. Dimana pohon pisangnya?”
“mari ikuti saya.”
Kancil berjalan didepan dan sang Kera mengikutinya. Tak beberapa lama mereka berjalan, sampailah keduanya pada tempat tujuan. Tepat didepan mereka terdapat rumpun pohon pisang dimana dari salah satu pohonnya sudah ada yang berbuah masak. Tanpa menunggu komando dari Kancil, Kera langsung memanjat. Dalam hitungan detik ia sudah berada diatas. Ia pun memetik dua buah pisang dimana satu untuknya dan satu untuk si Kancil. Mereka berdua langsung memakan buah pisang tersebut dengan lahapnya. Namun dalam hal memakan pisang, Keralah juaranya. Buah yang berada pada tangan si Kancil belum habis setengah, buah pisang milik sang Kera sudah habis duluan. Iapun kemudian melemparkan kulit pisang yang baru saja habis dimakannya kebawah dekat dengan kancil. Tiba-tiba muncullah akal buruk dalam pikirannya. Ya, dia hanya akan memberikan kulit pisang saja kepada Kancil. Bukankah Kancil adalah hewan pemakan sayur dan buah? Pasti kulit pisangpun dia juga doyan. Sang kera kemudian memetik buah pisang selanjutnya. Namun kali ini ia hanya memetik satu buah saja untuk dirinya sendiri. Karena kecepatan makannya terhadap pisang, maka buah pisang yang kedua ini habis berbarengan dengan buah pertama milik si Kancil.
Melihat pisang milik Si Kancil juga sudah habis, maka ia segera memetik pisang kembali, tapi hanya satu untuk dirinya sendiri. Dan ia kemudian melemparkan kulit pisang yang sudah habis dimakannya kearah si Kancil. Kancilpun dengan senang hati menerima jatahnya, tapi ketika ia mendekat pada pisang yang baru saja dilemparkan oleh Kera ia kaget alang kepalang. Ternyata yang diterimanya barusan hanyalah kulitnya saja, sementara isinya sudah tak ada lagi. Kancil berteriak menyeru kepada Kera. “Tuan mengapa buah yang anda lemparkan hanya kulitnya saja?” Kera yang berada diatas pohon berpura-pura tidak mendengar secara jelas teriakaan Kancil, karena waktu itu kebetulan angin sedang berhembus kencang. “apa? Suaramu tidak begitu jelas. Ulangi lagi pertanyaanmu, lebih keras!” Kancil mengulang lagi perkataannya dengan suara yang lebih lantang. Demikian juga Kera, iapun kembali hanya mengulang jawabannya dengan suara yang lebih keras pula.
Akhirnya Kancil tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang sedang terjadi. Ia terus-menerus menggerutu karena ternyata hanya bisa menikmati kulit pisang, padahal ia-lah yang merasa paling berjasa karena menemukan pohon pisang itu. Kesal, marah dan dendam bercampur menjadi satu dalam hati Kancil. Hatinya bertambah kesal karena Kera tetap saja tidak peduli. Diatas dahan sang Kera terus memakan buah pisang dan hanya melemparkan kulitnya saja pada si Kancil demikian sampai setandan pisang diatas pohon habis diamakan sang Kera.
Kancil berusaha tetap memasang muka tenang dan sabar ketika sang Kera turun dari pohon dan menghampirinya. “kenapa kamu tidak meminta buahnya kepadaku? Apakah kamu lebih menyukai kulit pisang daripada isinya?” Tanya Kera. Kancil yang sebenarnya sangat kesal karena kelakuan Kera, menjawabnya dengan penuh diplomatis. “ya benar. Saya adalah hewan yang jauh lebih suka kepada kulit pisang daripada buahnya. Dan saya kira anda adalah hewan yang sangat menyukai pisang daripada kulitnya. Karena itulah, saya merasa pembagian buah pisang antara saya dan anda barusan sangatlah adil.” Selesai perbincangan itu, keduanya sepakat untuk berpisah. Kancil berjalan mengikuti arah aliran sungai sementara Kera kearah sebaliknya.
Beberapa hari kemudian, secara kebetulan Kancil dan Kera bertemu lagi. Mereka berdua saling bertegur sapa dan menanyakan hendak kemana tujuannya. Dengan pongahnya Kera mengatakan bahwa ia baru saja menghadap Harimau sang raja hutan serta sedang mengemban tugas rahasia demi ketentraman seluruh penghuni rimba. Kancil sebagai hewan yang terkenal cerdik tidak kurang akal untuk mencari tahu tugas apa yang sebenarnya tengah diemban oleh Kera. “tuan, tugas apa gerangan yang sedang tuan emban? Kalau boleh ijinkan saya untuk menyertai tuan mengemban tugas mulia dari sang raja.” Tanya Kancil merendahkan diri.
“aku rasa kau tidak akan mampu membantuku mengemban tugas ini. Karena tugas ini terlalu rumit dan berat.” Jawab Kera.
Kancil tidak menyerah begitu saja. “saya menyertai tuan bukan untuk membantu tuan dalam hal tugas, tapi saya hanya ingin menjadi pembatu tuan agar tuan tidak kekurangan suatu apapun.”
Kera mulai menimbang apa yang diusulkan oleh kancil. Ya, paling tidak jika ada yang menyertainya maka ia tidak harus mencari makan ataupun minum sendiri. “kalau begitu baiklah, kau boleh mengikutiku. Tapi kau harus ingat bahwa, kau hanya membantukuku dalam mencari makanan dan minuman, bukan untuk menemukan pusaka yang diperintahkan sang raja.”
“pusaka?” sahut Kancil. “Pusaka apa yang tuan cari?”
Kera menyadari kesalahannya. Ia sudah terlanjur mengatakan tentang tugas yang diembannya dari sang raja. “baiklah, karena aku sudah terlanjur mengatakannya maka aku akan menceritakan padamu.” Kera mengajak Kancil berjalan menyusuri hutan belantara. Ia kemudian menceritakan bahwa Harimau sang raja hutan baru saja menerima wangsit melalui mimpinya. Dalam bisikan tersebut dikatakan bahwa, ada pusaka milik para dewa yang tertinggal didalam hutan. Pusaka tersebut berbentuk sebuah kenong wasiat yang apabila dipukul akan menimbulkan suara gemuruh yang hebat hingga seluruh hutan akan mendengarnya. Sang raja juga mengatakan, bahwa siapapun yang mempunyai pusaka tersebut akan selalu dilindungi oleh para dewa. Raja menginginkan pusaka itu bukan hanya untuk mendapatkan berkah dari para dewa, namun juga, jika pusaka berhasil didapatkan maka ia tidak perlu susah-susah dalam mengumpulkan warganya. Karena suara gemuruh yang ditimbulkan oleh kenong dewa juga akan digunakan sebagai tanda bahwa raja menghendaki semua rakyatnya berkumpul. Demikian kera menjelaskan perintah yang sedang diembannya.
Sembari bercerita, keduanya terus berjalan melintasi belantara luas. Hari mulai sore. Kera sebagai pemimpin, memutuskan untuk beristirahat dan meneruskannya keesokan hari. Kancil sadar bahwa dalam perjalanan ini ia adalah pembantu kera. Maka dengan cekatan, ia menyiapkan tempat istirahat untuk majikan barunya. Setelah tempat istirahat untuk sang majikan selesai, maka si Kancil segera pergi untuk mencari tempat makanan dan minuman. Ternyata, tak jauh dari tempat mereka beristirahat ada sebuah danau kecil dengan air yang jernih serta dikelilingi oleh pohon berbagai macam buah yang mulai ranum. Kancil memanfaatkan situasi ini untuk berkeliling melihat pemandangan sekitar danau.
Kancil berjalan menyisir setiap sudut danau hingga sampailah disebatang pohon delima yang tengah berbuah lebat. Karena merasa sudah cukup jauh berjalan. Ia memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat. Kancil menyandarkan tubuhnya pada batang mungil pohon delima. Karena terlalu lelah berjalan, akhirnya Kancil tertidur ditempat itu. Tapi belum lama ia terlelap, telinganya yang tajam menangkap suara berdengung yang membisingkan. Kancil memasang mata dan telinga untuk mencari sumber suara. Ternyata suara tersbut berasal dari ribuan tawon Gung yang hendak pulang kerumahnya di atas pohon nangka yang tak jauh dari tempatnya bersandar. Sekawanan lebah itu hendak pulang kesarang mereka setelah seharian mencari makan. Mata si Kancil tak bisa lepas mengikuti kawanan lebah sampai dirumahnya yang berbentuk bulat dan menggantung. Alangkah besarnya kuasa pencipta alam ini, pikirnya.
Belum habis ketakjuban si Kancil terhadap sang pencipta, dari kejauhan ia mendengar suara sang Kera memanggilnya. Mendengar panggilan dari sang Kera, Kancil buru-buru menjawab dan menghampirinya. “dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali?” Tanya Kera marah-marah. Kancil yang sadar bahwa posisinya sekarang hanya sebagai pembantu Kera berusaha menenangkan situasi. “maaf tuan, bukannya saya melupakan apa yang menjadi kewajiban saya. Saya tidak buru pulang, karena saya ingin berkeliling sekitar danau untuk mencari makanan yang terbaik untuk tuan.” Kata Kancil menjelaskan. Kerapun akhirnya mengerti bahwa kancil berlama-lama didanau hanya untuk mencarikan mana yang terbaik untuknya.
“lalu apa yang kau dapatkan?” Tanya Kera dengan suara yang lebih rendah.
 “banyak sekali tuan. Namun sesuai apa yang saya ucapkan, saya mencari yang terbaik untuk tuan. Yaitu pisang!”
“pisang?” Kera balik bertanya penuh girang.
“iya tuan, disebelah sana.” Kancil menunjuk arah bertolak belakang dari tempatnya tertidur tadi. Mereka berdua saling beriringan menuju rumpun pohon pisang yang ditunjukan kancil. Kera langsung memanjat pohon pisang tersebut sesampainya disana. Kembali, kejadian beberapa hari yang lalu harus terulang. Kera menikmati pisang tersebut untuk dirinya sendiri dan memberikan kulitnya kepada si Kancil. Kejadian ini tentu saja membuat sakit hati Kancil kepada Kera semakin menjadi. Dengan keadaanya saat ini, yaitu selalu bersama dengan Kera maka akan semakin besar kesempatannya untuk membalas sakit hatinya.
Matahari sudah hilang digantikan gelapnya malam saat Kancil dan Kera melangkah menuju tempat peristirahatan mereka. Kera langsung terlelap tidur diatas tumpukan daun kering yang disiapkan Kancil tadi siang. Sementara Kancil tetap saja tak bisa memejamkan mata. Ia terus berpikir bagaimana bisa melampiaskan sakit hatinya terhadap Kera. Terus ia berpikir dan akhirnya ide itu datang juga.
Kancil yang baru saja mendapatkan ide cemerlang, langsung meninggalkan tempat peristirahatan. Ia berjalan kearah danau menuju pohon delima yang tengah berbuah lebat. Disinilah ia akan melakukan pembalasan terhadap Kera. Waktu berlalu begitu lambat rasa si Kancil. Ketika rasa bosan hampir menghinggapi, jauh dari dalam lebatnya hutan terdengar kokok ayam jantan membahana. Matanya yang semula dihinggapi oleh kantuk serta merta kembali bersinar cerah. Semua kantuknya hilang bersamaan lengking suara ayam jantan menandakan pagi. Ia bergegas duduk bersila dibawah pohon delima.
Langit yang semula kelam telah berubah warna menjadi merah membara. Rimba belantara yang semula gulita perlahan-lahan menjadi terang dan hangat hingga membangunkan Kera dari lelap tidurnya. Perlahan ia duduk diatas tumpukan daun kering yang semalam menjadi alas tidurnya. Ada yang aneh, ia tidak melihat si Kancil disekitar situ. Lalu kemana dia? Mungkinkah sedang mencari makanan untuknya? Ya, pasti Kancil tengah mencari makanan. Namun setalah lama menunggu, ternyata Kancil tidak kelihatan batang hidungnya. Apakah Kancil telah pergi meninggalkannya? Tidak, tidak mungkin Kancil pergi. Ia tentu saja ingin turut berjasa bagi sang raja. Tapi kemana ia pergi? Kera tak mau berlama-lama dengan pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hatinya. Ia memutuskan untuk pergi mencari Kancil sekaligus berusaha menemukan makanan. Tak beberapa lama berjalan, ia akhirnya melihat sang Kancilyang tengah duduk  manis dirimbunya rerumputan hutan tak jauh dari pohon Delima. Namun apa yang sedang dilakukan Kancil, Tanya Kera dalam hati. Ia berjalan mendekati si Kancil yang sedang duduk bersila layaknya pertapa.
“apa yang kamu lakukan?” Tanya Kera membentak. Kancil terperanjat kaget. Matanya membelalak dan kakinya mundur beberapa langkah. “apa yang kamu lakukan?” Tanya Kera sekali lagi. Cukup lama Kancil membelalakkan mata tanpa bisa bersuara. “kenapa kamu?” Tanya Kera sekali lagi. Barulah Kancil seolah-olah mendapatkan kembali separuh nyawanya. Ia buru-buru menjawab pertanyaan Kera “maafkan saya, tidak segera menjawab pertanyaan tuan. Saya tadi merasakan bahwa sukma saya sedang berada dialam lain. Alam para dewa.”
Kera terheran-heran mendengar jawaban Kancil. “alam para dewa? Apa maksudmu?” Kancil berjalan mendekati Kera “bukankah tuan sedang mencari pusaka kenong para dewa dihutan ini? Waktu mencari makanan kemarin sore, saya mendapat bisikan dari peri penunggu danau ini. Ia menyuruh saya agar bertapa di tempat ini. Oleh karena itu, semalam saya meninggalkan tuan ketika sudah terlelap.”
“lalu apa yang kau dapatkan?” lanjut Kera. Kancil tidak langsung menjawab pertanyaan majikannya. Ia malah nampak kebingungan. “kenapa kau malah bingung seperti itu? Kau membohongiku dengan mengarang cerita tentang peri penunggu danau?” Kera bertanya.
“bukan, bukan begitu tuan. Sebenarnya saya tadi sudah mendapat petunjuk dimana kenong pusaka itu. Tapi………”
“tapi apa?” Desak Kera.
“saya tidak berani mengatakannya.” Mendengar jawaban Kancil yang berbelit-belit tersebut, tentu saja membuat Kera naik pitam. Ia kemudian mencengkeram leher Kancil kuat-kuat. “katakan atau kupatahkan lehermu?”
“baik tuan.”ucap kancil setengah ketakutan. Kera melepaskan cekikannya. “sekarang ceritakan.” Ucapnya.
Kancil menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita.
“saya memang telah mengetahui letak dan kelebihan dari pusaka tersebut berkat petunjuk para dewa. Siapapun yang memiliki pusaka kenong wasiat itu akan menjadi penguasa seluruh belantara menjadi wakil para dewa yang tak terbantahkan.”
“aku sudah tahu tentang kelebihan kenong wasiat itu, semuanya! Sang raja, telah memberitahuku.” Kata Kera menyela cerita Kancil.
“kalau tuan sudah tahu dengan semua kelebihan itu, mengapa tuan tidak ingin memilikinya? Jika memukulnya, tuan bisa memanggil para dewa dan memohon bantuannya. Dengan senang hati, para dewa tersebut akan membantu tuan.” Kancil merayu!
Kera, mulai termakan rayuan Kancil. Raut wajahnya menandakan ia mulai berpikir untuk memiliki pusaka tersebut. benar juga apa yang dikatakan Kancil, dengan Kenong para dewa ditangannya. Bahkan sang Harimau sang raja hutanpun bukan lawan yang sepadan.
“tuan, semua hewan penghuni hutan ini akan tunduk pada anda termasuk sang raja. Tidakkah anda ingin melihat keturunan anda hidup mulia?” Tambah Kancil meyakinkan.
Keraguan sekaligus keinginan Kera mengenai Kenong pusaka tersebut semakin menjadi.
“benar juga apa yang kau katakan, tapi mengapa kau tidak ingin memiliki pusaka tersebut sementara kau telah mengetahui dimana pusaka tersebut berada?” Tanya Kera.
“pada mulanya saya memang ingin memiliki pusaka tersebut, namun ternyata Kenong dewa itu terletak disuatu tempat yang tidak bisa saya ambil. Dan tuanlah satu-satunya harapan saya. Kalau tuan bisa mendapatkannya, saya hanya berharap semoga saja tuan mau menerima saya dan seluruh keturunan saya nantinya menjadi abdi tuan yang paling setia.”
Jawaban yang sempurna dari Kancil membuat Kera yakin bahwa apa yang dikatakan pembantunya tersebut bukanlah sebuah kebohongan.
“memang dimana letak pusaka itu hingga kau tak bisa mengambilnya?” Tanya Kera penuh ingin tahu.
“ikutlah dengan saya tuan.”
Kancil membawa Kera mendekati pohon delima kemudian ia berhenti.
“pasang telinga tuan baik-baik dan dengarkanlah.” Perintah Kancil.
Kera yang sudah sangat penasaran dengan keberadaan Kenong pusaka menurut saja. Sayup-sayup ia mulai mendengar suara gemuruh yang berasal dari tempat diatasnya.
“tuan mendengarnya? Suara gemuruh itu? Itu adalah efek yang ditimbulkan cari Kenong Dewa tersebut. dan jika ia dipukul, maka seluruh hutan ini akan mendengarnya sebagai pertanda bahwa yang memukulnya adalah raja baru mereka.” Kancil menjelaskan.
“lalu?” Kera mendesak.
Kancil melanjutkan penjelasannya.
“pusaka Kenong Dewa tersebut terletak menggantung dipuduk pohon nangka disamping pohon delima itu. Anda adalah bintang yang paling pandai memanjat, jadi letak pusakan itu bukan menjadi masalah dengan anda.”
Mengetahui keberadaan Kenong Dewa tersebut, Kera bergegas hendak memanjat pohon Nangka yang ditunjukkan Kancil, Kancil segera mencegahnya.
“tunggu tuan! Penjelasan saya belum berakhir.”
“penjelasan apa lagi?” Kera naik pitam.
“tuan harus memukul Kenong Dewa dengan tengan tuan sendiri. Tuan juga harus memejamkan mata serta muka tuan juga harus berada tepat didepannya. Karena penunggu Kenong Dewa itu selain mengenal muka anda juga harus hafal dengan aroma tubuh tuan.” Jelas Kancil selanjutnya.
“hanya itu persyaratannya?”
“benar tuan. Namun, saya tidak berani untuk menunggu  disini. Suara Kenong Dewa itu akan memecahkan kendang telinga saya. Tapi tuan tidak usah khawatir dengan itu. Sebab, menurut wasiat yang saya terima siapapun yang memukul pusaka itu akan mendengarkan suara layaknya alunan musik surgawi.”
“baiklah kalau begitu. Tunggu aku ditempat rumpun pisang yang kemarin. Setelah berhasil mengambilnya.” Kera memerintah.
“duli tuanku.” Kancil segera meninggalkan tempat itu, dan Kera juga langsung memanjat pohon Nangka tempat bersemayamnya Kenong Dewa incaran Harimau sang raja hutan. Kancil berlari sekuat tenaga, karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kera memanjat pohon Nangka dengan cepatnya. Matanya tajam mengawasi puncak pohon dan telinganya semakin jelas mendengar dengung suara kenong Dewa. Akhirnya, mata  sang Kera menangkap benda berwarna coklat berbentuk bulat layaknya Kenong. Semangatnya memuncat, hingga ia mempercepat langkahnya menuju puncak pohon dimana pusaka itu berada. Saat Kenong Dewa itu sudah tepat berada didepan mata, kemudian ia menciumnya dan mulai memejamkan mata. Semua petunjuk dari Kancil telah dijalankannya, hanya kurang satu lagi. Yaitu memukulnya sekuat tenaga. Dengan hati berdebar-debar dan penuh harap, ia kumpulkan segenap tenaganya kemudian memukul kenong tersebut kuat-kuat. Bersamaan dengan tangannya menembus Kenong Dewa yang ternyata adalah sarang tawon Gung tersebut maka ribuan tawon yang merasa terusik keluar dari sarangnya untuk mencari tahu.
Kera masih memejamkan mata hingga ia tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ia baru sadar, ketika seluruh tubuhnya mulai merasakan sakit karena sengatan ribuan lebah. Mengetahui bahaya yang mengancam, sang Kera langsung beranjak turun dari pohon. Namun lebah-lebah yang tak terhitung banyaknya tidak begitu saja membiarkan Kera lolos begitu saja. Mereka terus mengejar sang Kera disertai sengatan-sengatan disekujur tubuhnya hingga bengkak disana-sini.
Kera terus berlari dengan diikuti lebah-lebah yang mengejar sambil tak hentinya mengumpat si Kancil. Ribuan lebah itu baru berhenti mengejarnya setelah Kera bersembunyi dengan jalan membenamkan dirinya di danau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar